Sabtu, 25 April 2020



Seseorang itu akan dikumpulkan bersama orang yang dia Cintai  >>>
============================
Dikutip dari kitab "Karomatul Auliya Wa Thobaqotul Auliya' Dan Hilyatul Auliya"

Suatu ketika As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani Berkata; Dulu ada seorang tua di Turki yang hobinya membaca Al Qur'an, dari masa muda memang dia senang membaca Qur'an sampai dimasa tuanya. Namun ketika dia memasuki usia tua, dia mengalami kesulitan membaca dikarenakan kemampuan matanya sudah tidak seperti dulu lagi.

Lalu ia pun memiliki ide untuk menulis Al Qur'an dengan tangannya sendiri dan ingin menulis dengan huruf agak besar sesuai dengan yang dia inginkan, supaya ia bisa membaca Al Qur'an dengan jelas tanpa kesulitan sedikitpun. Akhirnya selesailah Al Qur'an hasil tulisan tangannya sendiri. Dan setiap hari ia membaca & membawa Al Qur'an itu kemana mana.

Suatu saat ketika dia hendak wafat, ia berpesan kepada anaknya, nanti bila ia wafat maka hendaklah Al Qur'an yang dibuat dengan tulisan tangannya sendiri itu di ikut sertakan kedalam jasadnya ke dalam kuburnya. Selang berapa lama ia pun wafat dan anaknya pun segera menunaikan wasiat ayahnya untuk memasukkan Al Qur'an itu kedalam kubur ayahnya bersama jasadnya pada saat pemakamannya.

Setelah berlalu satu tahun dari wafat ayahnya. Anaknya pun menunaikan ibadah haji. Dan saat anaknya berada di Madinah, anaknya berjalan-jalan ketempat perbelanjaan. Dan ia memasuki sebuah kedai kitab & kaligrafi di Madinah. Alangkah terkejut anaknya ketika melihat Al Qur'an yang ditulis ayahnya ada di kedai itu.

Ia pun bertanya kepada penjaga kedai itu sambil menunjukkan Al Qur'an itu kepada penjaga kedai: "Dari manakah al Qur'an ini didapat"?

Maka penjaga kedai itu Menjawab:
Saya mendapatkan al Qur'an itu dari seorang penggali kubur".

Anaknya berkata lagi :
Bisakah anda mempertemukan kepada saya penggali kubur tersebut".

Lalu penjaga kedai itu pun segera mempertemukannya dengan penggali kubur tersebut. Setelah bertemu dengan penggali kubur itu, anaknya tadi segera bertanya kepada penggali kubur.

Bagaimana anda bisa mendapatkan al Qur'an ini" (sambil menunjukkan Al Qur'an tulisan tangan ayahnya kepada penggali kubur tersebut).

Lalu penggali kubur itu berkata :
Saat saya menggali kubur untuk seseorang di Baqi' (pemakaman di Madinah), saya melihat sebuah jasad masih utuh dan di samping jasad itu ada sebuah Al Qur'an tulisan tangan persis dengan yang ada ditangan anda sekarang ini.

Saya pun mengambilnya dan menyimpannya, dan suatu ketika saya butuh uang, karena saya butuh uang akhirnya saya menjualnya ke sebuah kedai".

Anaknya pun berkata lagi kepada penggali kubur: Bisakah anda menunjukkan kepada saya, dimana letak posisi makam dimana anda menemukan Al Qur'an ini. Dan kalau anda mau bisakah anda menggali makam tersebut untuk saya sekali saja, karena saya ingin melihat orang yang ada didalam makam tersebut".

Penggali kubur itu berkata: insyaa Alloh saya akan lakukan, bila itu yang anda minta"

Setelah penggalian dilakukan oleh si penggali kubur. Akhirnya tampaklah, ternyata memang jasad ayahnya yang berada di dalam kubur tersebut, sementara jasadnya dalam keadaan masih utuh. Anak itupun menangis melihat jasad ayahnya tersebut dan kagum dengan keajaiban tersebut. Padahal dia melihat sendiri saat pemakaman ayahnya itu di Turki setahun yang lalu. Dan bagaimana bisa makam ayahnya sekarang berada di Madinah.

Dan mengenai hal ini As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani berkata :

المَرْءُ مَعَ مَنْ اَحَبَّ
"Seseorang itu akan dikumpulkan bersama orang yang dia Cintai"

Baik di dunia, di alam kubur ataupun di akhirat nanti. Karena orang yang di dalam kubur tersebut mencintai Rosululloh Saw, maka Alloh mengumpulkan dia dengan Rosululloh Saw, baik secara dzohir ataupun secara batin. Dan menurut Imam Al Ghozali itu bukan suatu perkara yang sulit atau mustahil. Dan kejadian seperti itu memang sudah sering terjadi.

Subhanallah
Semoga Keluarga kita dan anak keturunan kita, Istiqomah dalam membaca Al-Qur'an, dan semoga Allah jadikan Keluarga kita menjadi keluarga yang Sholeh dan sholehah, Amiin.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

📡 APA ALASAN KITA ??? 🔫

😷TIDAK MEMBACA AL QUR'AN

Dikisahkan bahwa, sahabat agung yang berjuluk.

“Saifullah al-maslul” (Pedang Allah yang selalu terhunus),

Yaitu Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu dulu, setiap kali mengambil Mushaf Al-Qur’an untuk membacanya, beliau selalu menangis seraya berkata:

Kami telah tersibukkan darimu (wahai Al-Qur’an) oleh jihad !

Nah, jika sang panglima jihad islami sepanjang sejarah senantiasa menangis dengan penuh rasa bersalah karena, menurut beliau, kurang banyak membaca Kitabullah, dengan alasan syar’i yang demikian indah, mulia dan agung, yakni kesibukan beliau dalam berjihad fi sabilillah, yang tak lain adalah dalam rangka memperjuangkan dan membela ajaran serta nilai-nilai Al-Qur’an itu sendiri.

Ya jika kesibukan jihadlah alasan Sayyidina Khalid sehingga agak jarang tilawah,

Lalu apakah gerangan alasan logis kita ketika selama ini masih juga sering bersikap kurang akrab dengan Kalamullah?

Bahkan mungkin ada yang sampai seolah-olah tengah “berseteru” dengannya, karena begitu langkanya ia “menyapa”-nya?

Dan apakah kita juga menangis karenanya, seperti sahabat Khalid radhiyallahu ‘anhu dulu menangis?

Mari bertobat dan beristighfar..!

Mari menangis dengan penuh rasa bersalah dan berdosa kepada Allah, karena selama ini telah lebih sering jauh dengan Kitab-Nya, Al-Qur’an Al-Karim !

Dan jika ternyata sulit untuk bisa menangis karena itu, maka sudah sepantasnyalah kita menangisi kerasnya hati yang telah demikian membatu karena tidak atau jarang tersirami oleh hujan barakah Al-Qur’an!

Mari selalu “menyapa” Al-Qur’an, mengakrabinya seakrab-akrabnya, dan mengharmoniskan hubungan kita dengannya, seharmonis-harmonisnya!

Sehingga, dengan demikian, barakah Allah-pun insyaallah akan senantiasa “menyapa” kita, mengakrapi kehidupan kita, dan mengharmoniskan setiap langkah hidup kita dengan hidayah, inayah dan taufiq Allah ‘Azza wa Jalla!.

✍🏼Ustad Ahmad Mudhofar Al Jufri MA





MUSTAHIL MUTQIN SELAMANYA.


Tulisan ini cukup menarik diangkat, karena selama ini banyak orang yang menganggap kelancaran hafaalan sebagai keberhasilan usaha tanpa intervensi. Banyak juga yang mengaitkannya dengan lamanya waktu untuk mengulang-ulang hafalan, meski gak seutuhnya salah, tapi teori ini gak gitu benar juga.

                Sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia menghafal, aku sendiri berani bilang bahwa Al-Qur’an adalah sesuatu yang magis dan memang begitulah, karena tidak ada satupun usaha manusia yang bisa mengambilnya tanpa kekuatan ghaib. Kalian bisa beli rumah dengan nabung berdarah-darah, tapi dengan menghafal hinggah behrdara-darah pula, belum  tentu hafalan itu masuk gitu aja. Dan kalaupun uda lancar, gak mesti selamanya lancar sedia kala. Dan mungkin banyak yang gak percaya, seorang hafizh Qur’an di Iran yang khatam umur 7 tahunpun masa tuanya murtad (aku lupa judul bukunya tapi ini di salah satu buku karya Moch Fauzil Adhim), hafalannya menguap gitu aja tak tersisa. Padahal bisa dihitung berapa puluh tahun yang dia habiskan buat muroja’ah? Make a sense lah ya.

Dan ini pun terjadi pada diriku sendiri, setiap kali aku setoran Muroja'ah aku benar2 merasa “ditolong” buat membaca apa yang udah aku ingat, kita gak bermuka dua buat gak bilang bahwa IQ seseorang memang berperan dalam menghafal sih, tetapi itu bukan segala-galanya, sama kayak duit yang bisa bikin ibadah seseorang lebih bervariasi dengan umroh dan sedekah sekian milyar, tapi duit bukan segala-galanya.

                Poin pentingnya, aku cuma mau bilang bahwa mutqin itu rezeki yang bisa dicabut karena seseorang bermudah -mudah dalam urusan Al-Qur’an, dalam makna lain, menyia-nyiakannya, dan bisa istidraj juga, tapi ini lebiih mengerikan sih, dan Allah kalau mau melanggengkan Al-Qur’an di Dada seorang hamba tersebut, Dia pasti membimbing hamba tersebut dengan taufiq-Nya, untuk senantiasa mengulang hafalannya tanpa sekat usia.

     Jadi kalau kalian menjadikan mutqin sebagai standar, nggak sepenuhnya bagus juga. Gak nikah kalau gak mutqin, gak sarjana dulu kalau gak mutqin, ya nikah nikah aja, ya selesain kuliah selesain aja, karena mutqin itu hak priorigatif Allah, bukan dari usaha kalian yang terbatas dan seadanya, nanti kalian stuk dan ngerasa buntu, kok aku siang malam ngaji gak lancar-lancar ya? Kok dia bisa? Emang mau jomblo sampai kapan? Jadi mahasiswa abadi sampai kaapan?

    Lakukan semampunya, biarkan Allah menjalankan peran-Nya, karena mutqin yang haqiqi bagi Allah sebenarnya IMPLEMENTASI HAFALAN ANDA dalam ibadah dan muamalah, bukan jumlahnya, bukan lancarnya, bukan kecepatan setorannya.



Azzaxhra 18 April 2020




Rabu, 15 April 2020

FISIK BOLEH TERBATAS NAMUN LANGKAH JANGAN, FISIK BOLEH CACAT TAPI PENGETAHUAN TIDAK.


......... Pesantren juga menjadi laboratorium bagi para Ustadz, Cendikiawan, Kiyai, Syekh atau apapun namanya bagi orang yang displin ilmu untuk meracik pengetahuan dan pengalaman yang selama ini didapatkan, Pesantren juga menjadi sebuah ladang amal kepada orang-orang yang benar-benar mau berkhidmat untuk ummat.

          Sebuah kisah yang sangat menarik  dan menginspirasi bagi kami, seorang sahabat kami Abu Bakar yang sedang membina sebuah Pondok Pesantren di Kabupaten Sumedang Jawa Barat, Mas Abu adalah sapaan akrab yang kami panggilkan kepadanya, Mas Abu sebenarnya bukanlah seorang santri tulen karena latar belakang pendidikannya tidak seperti santri lainnya yang bertahun-tahun mondok, Mas Abupun pertama kali mengecap dunia pendidikan di PTDQ (Pesantren Tahfidz dan Dirosat Qur’an) Al-Hayah Jakarta Timur di tahun 2014 silam.

Laki-laki kelahiran tahun 1993 ini sangat  serius menghafal al-Qur’an di Pesantren Alhayah, dengan bermodalkan keinginan dan tekat yang sangat kuat serta bisa baca Al-Qur’an walau sedikit  terbata-bata sejak dari kampung halaman di Bima NTB, dalam perjalananya sebagai santri ia mendapatkan bimbingan langsung dari pengasuh Pesantren Alhayah Dr. KH. Ali Akhmadi. MA, LC, alhafizh, dengan metode  pendekatan Tahsin, Talaqqi, Tahfizh hingga mampu men-Tasmi'kan hafalan Al-Qur'annya di depan jama'ah, dan akhirnya ia menyeselesaikan  hafalannya sesuai dengan target selama 1 tahun.

Singkat cerita setelah Mas Abu menyelesaikan tugasnya sebagai santri di PTDQ Alhayah Jakarta  selanjutnya diberikan amanah untuk meng-hendel santri PTDQ Al-Hayah di Cabang Jawa Barat Sumedang yang sedang rotasi SDM, bukan tanpa bekal Mas Abu mengemban amanah yang berat itu namun karena Mas Abu mampu bersabar dan taat kepada para guru yang selama ini menuntunnya terutama dari Ustadz H, Joko Setiono, S.Pd alhafizh selaku mentor yang selalu membersamainya dan saling tukar fikiran, yang menjadikan tugas berat itu menjadi ringan dan lancar walau tetap kadang bertemu dengan benturan-benturan.

     Urusan bukan hanya mengajarkan huruf A BA TA saja kepada santrinya, tapi urusan administrasi, urusan lapangan dan tekhnis juga Mas Abu harus jalankan sebab Pesantren Alhayah Sumedang adalah Lembaga Pendidikan yang baru dirintis alias masih berumur jagung, Mas Abu harus memberanikan mental berhadapan dengan pejabat kementrian agama Jawa Barat untuk pengurusan izin operasional pesantren.


    Mas Abu adalah seorang laki-laki tangguh yang  yang harus berjuang,  bukan cuma berjuang melawan kemalasan dan tantangan zaman tapi Mas Abu juga harus melawan rasa minder, sebab Mas Abu adalah seorang difabel, tidak normal secara fisik seperti orang-orang umum pada biasanya, selalu saya sampaikan ketika kami "manggung" bareng dengannya bahwa, “Mas Abu punya fisik yang terbatas namun langkah Mas Abu tidak terbatas, Mas Abu memang cacat secara fisik tapi Mas Abu jauh  dari kata cacat akan pengetahuan."  Dulu, Salah satu yang  menjadi alasan kenapa Mas Abu tidak memulai sekolah adalah karena Mas Abu berbeda dengan teman-temannya, yang ada dia jatuh mental duluan dan hanya bisa mara-marah, tak tahu harus menyalahkan siapa dengan kondisinya itu?


       Namun saat ini berkat selalu mendapatkan suntikan motivasi dari orang-orang yang berada di sekelilngnya yang notabenenya orang-orang akademisi menjadikan Mas Abu juga punya impian untuk bisa menyelesaikan pendidikan sampai bangku kuliah, walau bangku sekolah melalui jalur kesetaraan. Perbedaan bukanlah menjadi benteng penghalang kita untuk berbaur tapi perbedaanlah yang membuat hidup kita jadi lebih berwarna.


    Disaat Mas Abu menjalankan tugasnya di Pondok  Pesantren Alhayah Sumedang, pada saat itu juga masyarakat mulai perlahan menaruh simpati kepadanya sembari ia memperkenalkan Pesantren Alhayah pada warga sekitarnya bahwa pesantren alhayah adalah lembaga yang berkecimpung di dunia da'wah terutama Alquran. 

     Mas Abu mampu menghafal Al-Qur’an dalam usia muda diwaktu yang singkat dengan kondisi fisik yang terbatas, Berbeda dengan anak-anak normal lainnya yang seusia dengannya, yang sibuk bermain tik-tok, sibuk mabar (main bareng) game online, sibuk bermanja-manja ria dengan berpacaran kepada yang bukan mahramnya.                                                                                

   Kini Mas Abu akrab disapa Ustadz Abu yang alhamdulillah telah berhasil mencetak santri  penghafal al-Qur’an juga di PTDQ Alhayah Sumedang, ikut andil membangun generasi islami dan berpartisipasi membangun bangsa, dari tahun 2015 sampai sekarang.

     Tidak cuman sampai di situ saja, Ustadz Abu sering mendapatkan kehormatan dengan diundangnya untuk menyampaikan nasehat dan memberikan motivasi kepada para remaja Masjid  di daerah Sumedang dan sekitarnya dan  juga kepada anak-anak SMA di sekolah-sekolah di Sumedang dan sekitarnya sampai Bandung.





     Sangat mulia dan memberikan manfaat bagi banyak orang, dan bagi kami sebagai seperjuangannya, dia sangat menginspirasi serta menjadi cambuk dikala kami sedang futur, bahwa tubuh ini bukan hanya seonggok daging belaka, tapi lebih dari itu ada  nilai lebih di dalamnya yang harus kita wakaf-kan kepada bangsa & agama agar kemanfaatanya bisa lebih luas.


 
   Dan kami juga mendapatkan informasi bahwa Ustadz Abu pernah mendapatkan undangan khusus untuk  sharing bersama para anggota koramil di daerah kec. Darmaraja Sumedang, memberikan sedikit taujih di depan bapak-bapak yang "memikul" pangkat.






     Ustadz Abu juga diendorse oleh salah satu Lembaga Kemanusiaan untuk menggalang dana online dan program “Muliakan Guru Ngaji & profesi Pra Sejahtera” di akun tersebut. 





        Qodarullanya ada seorang Muzakki yang siap menfasilitasi Ustadz Abu untuk berangkat Umroh bersama para jama’ah yang lainnya.  Sebelum nama Ustadz Abu di ACC untuk didaftarkan di travell, dilakukan pengecekkan terlebih dahulu "di mana Ustadz Abu mengajar ngaji nya?" Team Advance tiba di Pondok Pesantren Al-Hayah Sumedang untuk survey lembaga yang Ustadz Abu tempati berdedikasi, dan Alhamdulillah Ustadz Abu akhirnya berangkat untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW.



       Tiba di Masjidil Haram besama jama’ah lainya pada tahun 2019 lalu, "ketika di Masjid Nabawipun Saya menyempatkan duduk bersilah untuk halaqoh bersama Syaikh setempat yang selalu standby menunggu jama'ah dan saya mentasmi'kan sedikit hafalan Al-Qur'an, mereka sangat salut dengan jama’ah Indonesia yang Antusias dengan Al-Qur’an dan kagum dengan keadaan saya yang berbeda dengan yang lain tapi Cinta Al-Quran" pungkasnya.

    Tak habis-habisnya masih ada saja tawaran kepada Ustadz Abu agar berangkat ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah Umroh dari para Muzakki yang melihat video di lembaga kemanusiaan tersebut dan diOploud ulang oleh akun-akun lainya, berkah Al-Qur’an.

       Ustadz Abu juga mendapatkan fasilitas satu unit kendaraan roda tiga supaya Ustadz Abu bisa gunakan ke manapun yang dia inginkan, motor tersebut tidak langsung dibeli jadi, tapi membutuhkan proses modifikasi dan disain untuk bisa dipakai oleh Ustadz  Abu secara khusus, dan masih banyak lagi anugrah-anugrah Allah lain yang Ustadz Abu dapatkan dari keberkahan hidup lainnya, sperti kaki palsu dan sepatu khusus dan sebagainya. 

      Berkah Alquran, Berkah berkhidmat kepada Ummat, berkah mengabdi kepada Lembaga (Pondok Pesantren Alhayah),  Perjuanganmu tiada sia-sia. Berkah, berkah, berkah…..

Insya Allah ... Barakallah Ustadz Abu Bakar Thalib.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita agar istiqomah tetap di jalan-Nya. Aamiin…. 


diambil dari draf buku "Ceritakan ke Mereka Serunya Mondok di Pesantren.  Sabran.istimewah (Desember.2019)
mohon do'anya agar segera terbit. aamiin

sahabatmu.....