MUSTAHIL MUTQIN SELAMANYA.
Tulisan ini cukup menarik diangkat,
karena selama ini banyak orang yang menganggap kelancaran hafaalan sebagai
keberhasilan usaha tanpa intervensi. Banyak juga yang mengaitkannya dengan
lamanya waktu untuk mengulang-ulang hafalan, meski gak seutuhnya salah, tapi teori
ini gak gitu benar juga.
Sebagai
seorang yang berkecimpung dalam dunia menghafal, aku sendiri berani bilang
bahwa Al-Qur’an adalah sesuatu yang magis dan memang begitulah, karena tidak
ada satupun usaha manusia yang bisa mengambilnya tanpa kekuatan ghaib. Kalian
bisa beli rumah dengan nabung berdarah-darah, tapi dengan menghafal hinggah behrdara-darah
pula, belum tentu hafalan itu masuk gitu
aja. Dan kalaupun uda lancar, gak mesti selamanya lancar sedia kala. Dan mungkin
banyak yang gak percaya, seorang hafizh Qur’an di Iran yang khatam umur 7 tahunpun
masa tuanya murtad (aku lupa judul bukunya tapi ini di salah satu buku karya Moch
Fauzil Adhim), hafalannya menguap gitu aja tak tersisa. Padahal bisa dihitung
berapa puluh tahun yang dia habiskan buat muroja’ah? Make a sense lah ya.
Dan ini pun terjadi pada diriku
sendiri, setiap kali aku setoran Muroja'ah aku benar2 merasa “ditolong”
buat membaca apa yang udah aku ingat, kita gak bermuka dua buat gak bilang
bahwa IQ seseorang memang berperan dalam menghafal sih, tetapi itu bukan
segala-galanya, sama kayak duit yang bisa bikin ibadah seseorang lebih bervariasi
dengan umroh dan sedekah sekian milyar, tapi duit bukan segala-galanya.
Poin pentingnya,
aku cuma mau bilang bahwa mutqin itu rezeki yang bisa dicabut karena seseorang
bermudah -mudah dalam urusan Al-Qur’an, dalam makna lain, menyia-nyiakannya,
dan bisa istidraj juga, tapi ini lebiih mengerikan sih, dan Allah kalau
mau melanggengkan Al-Qur’an di Dada seorang hamba tersebut, Dia pasti membimbing
hamba tersebut dengan taufiq-Nya, untuk senantiasa mengulang hafalannya tanpa
sekat usia.
Jadi kalau kalian menjadikan mutqin sebagai standar, nggak
sepenuhnya bagus juga. Gak nikah kalau gak mutqin, gak sarjana dulu kalau gak
mutqin, ya nikah nikah aja, ya selesain kuliah selesain aja, karena mutqin itu
hak priorigatif Allah, bukan dari usaha kalian yang terbatas dan seadanya,
nanti kalian stuk dan ngerasa buntu, kok aku siang malam ngaji gak
lancar-lancar ya? Kok dia bisa? Emang mau jomblo sampai kapan? Jadi mahasiswa
abadi sampai kaapan?
Lakukan semampunya, biarkan Allah menjalankan peran-Nya,
karena mutqin yang haqiqi bagi Allah sebenarnya IMPLEMENTASI HAFALAN ANDA dalam
ibadah dan muamalah, bukan jumlahnya, bukan lancarnya, bukan kecepatan
setorannya.

masya Allah
BalasHapusMaasyaAllah , tulisannya sangat bermanfaat ustadz. Memang benar Allah Maha berkehendak atas makhluk2 Ny,kita hanya patut bersyukur dan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga.
BalasHapusTerus berkarya ustadz, Baarakallahu fiikum..
Waarbiyasaaaaaah mi. Baarokalloohu fiikum
BalasHapusMasyaAllah ustadz...,tulisannya bagus sekali...,saya setuju ustadz...mudqin itu rezeki,mudah2an allah memberikan rezeki mudqin pada ustadz dan anak saya ,aamiin...
BalasHapusMasya Allah mantap ustadz, lanjutkan
BalasHapusmasyaaallah......
BalasHapusAlhamdulillah ada tulisan spt ini.mengingatkan saya
BalasHapusAga kareba daeng
BalasHapus