Sabtu, 25 April 2020



MUSTAHIL MUTQIN SELAMANYA.


Tulisan ini cukup menarik diangkat, karena selama ini banyak orang yang menganggap kelancaran hafaalan sebagai keberhasilan usaha tanpa intervensi. Banyak juga yang mengaitkannya dengan lamanya waktu untuk mengulang-ulang hafalan, meski gak seutuhnya salah, tapi teori ini gak gitu benar juga.

                Sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia menghafal, aku sendiri berani bilang bahwa Al-Qur’an adalah sesuatu yang magis dan memang begitulah, karena tidak ada satupun usaha manusia yang bisa mengambilnya tanpa kekuatan ghaib. Kalian bisa beli rumah dengan nabung berdarah-darah, tapi dengan menghafal hinggah behrdara-darah pula, belum  tentu hafalan itu masuk gitu aja. Dan kalaupun uda lancar, gak mesti selamanya lancar sedia kala. Dan mungkin banyak yang gak percaya, seorang hafizh Qur’an di Iran yang khatam umur 7 tahunpun masa tuanya murtad (aku lupa judul bukunya tapi ini di salah satu buku karya Moch Fauzil Adhim), hafalannya menguap gitu aja tak tersisa. Padahal bisa dihitung berapa puluh tahun yang dia habiskan buat muroja’ah? Make a sense lah ya.

Dan ini pun terjadi pada diriku sendiri, setiap kali aku setoran Muroja'ah aku benar2 merasa “ditolong” buat membaca apa yang udah aku ingat, kita gak bermuka dua buat gak bilang bahwa IQ seseorang memang berperan dalam menghafal sih, tetapi itu bukan segala-galanya, sama kayak duit yang bisa bikin ibadah seseorang lebih bervariasi dengan umroh dan sedekah sekian milyar, tapi duit bukan segala-galanya.

                Poin pentingnya, aku cuma mau bilang bahwa mutqin itu rezeki yang bisa dicabut karena seseorang bermudah -mudah dalam urusan Al-Qur’an, dalam makna lain, menyia-nyiakannya, dan bisa istidraj juga, tapi ini lebiih mengerikan sih, dan Allah kalau mau melanggengkan Al-Qur’an di Dada seorang hamba tersebut, Dia pasti membimbing hamba tersebut dengan taufiq-Nya, untuk senantiasa mengulang hafalannya tanpa sekat usia.

     Jadi kalau kalian menjadikan mutqin sebagai standar, nggak sepenuhnya bagus juga. Gak nikah kalau gak mutqin, gak sarjana dulu kalau gak mutqin, ya nikah nikah aja, ya selesain kuliah selesain aja, karena mutqin itu hak priorigatif Allah, bukan dari usaha kalian yang terbatas dan seadanya, nanti kalian stuk dan ngerasa buntu, kok aku siang malam ngaji gak lancar-lancar ya? Kok dia bisa? Emang mau jomblo sampai kapan? Jadi mahasiswa abadi sampai kaapan?

    Lakukan semampunya, biarkan Allah menjalankan peran-Nya, karena mutqin yang haqiqi bagi Allah sebenarnya IMPLEMENTASI HAFALAN ANDA dalam ibadah dan muamalah, bukan jumlahnya, bukan lancarnya, bukan kecepatan setorannya.



Azzaxhra 18 April 2020




8 komentar:

  1. MaasyaAllah , tulisannya sangat bermanfaat ustadz. Memang benar Allah Maha berkehendak atas makhluk2 Ny,kita hanya patut bersyukur dan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga.
    Terus berkarya ustadz, Baarakallahu fiikum..

    BalasHapus
  2. Waarbiyasaaaaaah mi. Baarokalloohu fiikum

    BalasHapus
  3. MasyaAllah ustadz...,tulisannya bagus sekali...,saya setuju ustadz...mudqin itu rezeki,mudah2an allah memberikan rezeki mudqin pada ustadz dan anak saya ,aamiin...

    BalasHapus
  4. Masya Allah mantap ustadz, lanjutkan

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah ada tulisan spt ini.mengingatkan saya

    BalasHapus